Literatur Desa

Waspada Rabies. Penyebab dan Bahaya Rabies

16 Juni 2022
Administrator
Dibaca 9.088 Kali
Waspada Rabies. Penyebab dan Bahaya Rabies

SARIMEKAR - Dikutip dari laman www.alodokter.com rabies atau yang dikenal dengan istilah “penyakit anjing gila” masih menjadi salah satu penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat. Berdasarkan data tahun 2020, ada 26 dari 34 propinsi di Indonesia yang belum bebas dari rabies, dengan jumlah kematian per tahun lebih dari 100 orang.

Rabies adalah infeksi virus pada otak dan sistem saraf. Umumnya, virus penyebab rabies menular ke manusia melalui gigitan hewan. Rabies tergolong penyakit berbahaya karena berisiko menyebabkan kematian jika tidak cepat ditangani.

BACA JUGA : Rabies - Gejala, penyebab dan mengobati

Penyebab Rabies

Rabies disebabkan oleh virus yang umumnya ditularkan dari anjing melalui gigitan, cakaran, atau air liur. Selain anjing, hewan yang juga dapat membawa virus rabies dan menularkannya ke manusia antara lain kera, kucing, musang, dan kelinci.

Pada kasus yang jarang terjadi, penularan virus rabies juga dapat terjadi dari manusia ke manusia, melalui transplantasi organ.

Rabies disebabkan oleh virus Lyssavirus dari golongan Rhabdoviridae. Virus ini umumnya masuk ke tubuh manusia melalui cakaran atau gigitan hewan yang terinfeksi virus rabies. Jilatan hewan yang terinfeksi ke mulut, mata, atau luka terbuka, juga bisa menjadi cara penularan virus rabies dari hewan ke manusia.

Saat sudah memasuki tubuh, virus rabies dapat masuk ke otak melalui sel saraf, kemudian menggandakan diri dengan cepat. Hal ini dapat menyebabkan peradangan berat pada otak dan saraf tulang belakang.

Penting untuk diingat, virus rabies yang sudah menyerang otak dapat membuat kondisi pasien memburuk dan mengalami kematian dengan cepat. Penyebaran virus ke otak dapat terjadi lebih cepat jika pasien mengalami gigitan atau cakaran di area leher atau kepala.

Jenis hewan yang dapat membawa dan menularkan virus rabies antara lain:

  • Anjing
  • Kucing
  • Monyet
  • Kelelawar
  • Musang
  • Sapi
  • Kambing
  • Kuda
  • Kelinci
  • Berang-berang
  • Rubah
  • Rakun
  • Sigung

BACA JUGA : Rabies - Gejala, penyebab dan mengobati

Gejala Hewan Pembawa Virus Rabies

Virus rabies paling sering ditularkan melalui gigitan anjing, dan faktanya, populasi anjing liar di Indonesia bisa dibilang tidak sedikit. Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk mengenali tanda dan gejala anjing sakit yang terinfeksi virus rabies, sehingga penyakit rabies dapat dihindari.

Beberapa gejala yang dapat muncul pada anjing yang terinfeksi virus rabies adalah:

  • Mudah menyerang orang (agresif)
  • Mulut berbusa
  • Air liur berlebih
  • Bereaksi berlebihan terhadap cahaya dan suara
  • Suka menyendiri dalam ruangan gelap
  • Demam
  • Tidak nafsu makan
  • Lemah
  • Kejang
  • Lumpuh

Dari gejala di atas bisa diketahui bahwa rabies tidak selalu menyebabkan anjing menjadi agresif atau seperti “anjing gila”. Pada beberapa kasus, rabies justru bisa menyebabkan anjing menjadi lemah dan lebih pendiam.

Gejala Terinfeksi Virus Rabies

Belum ada pemeriksaan yang dapat mendiagnosis rabies sesaat setelah seseorang digigit hewan yang diduga membawa virus rabies. Penyakit ini hanya dapat dideteksi ketika gejalanya sudah muncul.

Jika memungkinkan, hewan yang menggigit akan diamati selama 10 hari, untuk melihat ada atau tidaknya gejala rabies pada binatang tersebut. Jika hewan tidak menunjukkan gejala rabies, pemberian vaksin rabies tidak perlu dilakukan.

Namun, jika hewan menunjukkan gejala rabies atau jika pengamatan tidak mungkin dilakukan, dokter akan memberikan vaksin rabies, sebagai langkah yang lebih aman bagi pasien

Gejala awal rabies biasanya muncul 30–90 hari setelah seseorang tergigit hewan yang terinfeksi virus rabies. Namun pada kasus tertentu, gejala juga bisa muncul lebih cepat atau lebih lambat. Hal ini dapat membuat diagnosis rabies sedikit susah, karena penderita bisa saja lupa telah tergigit atau tercakar hewan rabies.

Gejala awal rabies dapat mirip dengan gejala flu:

  • Demam
  • Kesemutan, nyeri dan gatal pada area bekas luka gigitan
  • Sakit kepala

Selain itu, beberapa gejala awal yang juga dapat dialami penderita adalah:

  • Lemas
  • Malas makan
  • Nyeri kepala
  • Menggigil
  • Nyeri tenggorokan
  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Gangguan cemas
  • Gelisah
  • Sulit tidur atau insomnia
  • Depresi

Jika rabies tidak teridentifikasi dan tidak ditangani, gejala akan berkembang menjadi lebih parah. Gejala lanjutan ini bisa digolongkan menjadi dua tipe, yaitu tipe agresif dan tipe paralitik. Berikut adalah penjelasannya:

Gejala lanjutan rabies tipe agresif

Kebanyakan rabies yang disebabkan oleh gigitan anjing akan menimbulkan gejala ini. Penderita akan mengalami episode “marah”, yang ditandai dengan rasa gelisah, linglung, perilaku hiperaktif, muncul keinginan untuk memukul atau menggigit, dan halusinasi. Episode ini biasanya hanya bertahan kurang dari 5 menit, tetapi dapat muncul kembali.

Penderita dengan gejala ini juga dapat mengalami kejang dan kram otot. Di beberapa kasus, gejala dapat berkembang menjadi tipe paralitik. Kematian dapat terjadi karena henti jantung atau gagal napas.

Gejala lanjutan rabies tipe paralitik

Penderita yang mengalami gejala ini akan lebih “diam”. Namun, gejala demam dan sakit kepala akan lebih berat. Penderita juga akan mengalami kelumpuhan yang menjalar, mulai dari anggota badan yang digigit hingga ke atas. Kematian dapat terjadi jika kelumpuhan sudah menjalar hingga ke otot napas.

Di luar gejala di atas, penderita rabies juga dapat mengalami:

  • Produksi air liur bertambah
  • Fotofobia atau takut terhadap cahaya
  • Hidrofobia atau takut air
  • Priapismus atau ereksi tanpa ada rangsangan seksual

<p">Selain keluhan di atas, ada beberapa gejala lanjutan yang dapat dialami oleh penderita rabies, seperti kram otot, sesak napas, dan halusinasi. Gejala lanjutan tersebut menjadi tanda bahwa kondisi pasien makin memburuk.

BACA JUGA : Rabies - Gejala, penyebab dan mengobati

Pengobatan Rabies

Rabies perlu ditangani segera setelah paparan terjadi, meski gejalanya belum muncul. Pengobatan rabies adalah dengan membersihkan luka serta memberikan serum dan vaksin rabies. Tujuannya untuk membantu sistem kekebalan tubuh melawan virus rabies, sehingga infeksi dan peradangan pada otak dapat dicegah.

Akan tetapi, jika virusnya telah menginfeksi otak, penanganan akan menjadi sulit karena belum diketahui metode yang benar-benar efektif untuk mengatasinya.

Segera ke IGD atau dokter terdekat jika Anda digigit atau dicakar hewan yang bisa membawa virus rabies, terutama jika gigitan terjadi di kepala atau leher. Jangan menunggu sampai gejalanya muncul, karena waktu kemunculan gejala rabies dapat berbeda pada setiap orang.

Penting untuk diingat, rabies dapat mengancam nyawa begitu gejalanya muncul. Oleh sebab itu, pastikan untuk mendapatkan serum atau vaksin rabies. Jika Anda mengalami gejala lanjutan rabies setelah digigit hewan liar dalam kurun waktu sekitar 1 bulan, segera periksakan diri Anda ke dokter.

BACA JUGA : Rabies - Gejala, penyebab dan mengobati

Pencegahan Rabies

Meski berbahaya, rabies adalah penyakit yang dapat dihindari. Caranya adalah dengan melakukan sejumlah upaya berikut:

  • Melakukan vaksinasi pada hewan peliharaan, seperti anjing atau kucing
  • Menjaga hewan peliharaan tetap di dalam kandang dan mengawasinya bila sedang di luar kandang
  • Menutup lubang atau celah di rumah yang bisa menjadi sarang hewan liar
  • Menghindari kontak dengan hewan liar atau hewan yang menunjukkan gejala rabies
  • Melapor ke lembaga pengendalian hewan liar jika muncul hewan-hewan liar
  • Menjalani vaksinasi rabies sebelum berkunjung ke wilayah yang sering terjadi penularan rabies, dan sebelum melakukan kegiatan yang dapat menyebabkan Anda tertular virus rabies

Artikel dikutip dari laman www.alodokter.com

Bagikan artikel ini:
Kirim Komentar

Komentar baru terbit setelah disetujui Admin

CAPTCHA Image